"Resa, est-ce que tu peux réserver le 28 Avril 2012? Je t'invite à ma fête d'anniversaire, mes 18 ans!"
Meskipun Claire mau ngerayain ulang tahunnya yang ke-18 tanggal 28 April 2012, dia udah minta aku booking tanggal itu buat dateng ke pestanya dari bulan Desember! Padahal acaranya masih bulan April!
Waktu terus berlalu.. Sampailah kita di tanggal 28 April 2012. Claire's birthday party!
Sebenernya, acaranya dimulai jam 18.00. Tapi, buat anak-anak yang mau nginep di rumahnya, harus dateng jam 17.00..
Jam 5 kurang, sampailah aku sama Pauline Dugenétais di rumah Claire. Di sana udah ada Lise, Marie, dan Marine. Di sana kita dandan-dandan gitu *yaelaaah .. Claire juga minta kita buat nulis-nulis ucapan di black board di kamarnya.
Jam 6 kurang, berangkatlah kita ke tempat pestanya. Temen-temen yang diundang (yaiyalah) dateng satu-persatu. Dan acara dengan tema rouge, noir, et blanc (translate: merah, item, putih) pun dimulai setengah jam setelahnya..
Marie, Resa, Marine, Lise
Claire, Lise, Laure, Pauline, Audrey
Moi, Claire
Danse de Macaréna
Anaïs, Resa, Sophie, Claire
Laure, Vlaire, Resa, Jérèmie, lise, Pauline
Ini adalah salah satu game di pestanya Claire.. Para peserta game diharusin nyari barang warna biru, dan cepet-cepetan duduk di kursi yang dikurangi satu-satu di depan.
Opening gifts section.
Aku udah nyiapin kado buat Claire dari seminggu sebelumnya. Tapi parah banget, aku malah lupa bawa kadonyaaa (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) akhirnya, habis Claire buka kado yang terakhir, aku (lagi-lagi) minta maaf gitu.. terus habis itu, sebagai excuse, aku nyanyiin lagunya Titi DJ yang Bahasa Kalbu buat Claire. Setelah selesai, Claire meluk aku sambil nangis, bilang "Je ne veux pas que tu rentres en Indonésie.." (translte: aku nggak mau kamu balik ke Indonesia). Habis pelukan sama Claire, aku liat anak-anak pada nangis gitu.. Pada muji-muji juga :p *cielah .. Terus Jérèmie bilang, "Je n'ai jamais pleuré quand j'ai écouté quelqu’un qui chante. Mais tu m'a fait pleur, Resa.." (translate: aku nggak pernah nangis waktu denger orang nyanyi. Tapi kamu bikin aku nangis..) Aaaaa senang sekaliiiii :D
Another funny game
Danse
Acara selesai jam 3 pagi-an. Kita balik lagi ke rumah Claire sekitar jam 4.15.. Terus habis itu kita malah nonton film, dan baru tidur jam setengah 7 pagi !
Baru aja kemarin Februari libur, eh April ini libur lagi :) Liburan kali ini bernama Liburan Musim Semi, alias Spring Break, alias Vacances de Printemps. Dan liburan kali ini ngepas juga sama Paskah, alias Easter, alias Pâques. *gileeee lengkap bener penjelasannya
Liburan kali ini, aku dan host-fam ku nggak jalan jauh-jauh. Kalo biasanya kita keluar Region, kali ini enggak.. hiks. Tapi kita tetep aja jalan-jalan (loh?)
Dimulai pada Hari Jumat, 6 April 2012. Itu adalah hari terakhir aku sekolah sebelum liburan. Jadwal kita sore itu adalah "Menjemput" orang-orang di stasiun. Pertama, aku sama Thibault ngejemput Olden (pacarnya Anaelle) dari Paris, sekitar jam 17.45 gitu. Habis itu, kita makan di restoran depan stasiun (sama hostdad dan hostmom juga) sambil nunggu Anaelle yang nyampe jam 21.30, dan Sarah (pacarnya Thibault) dari Swiss yang nyampe jam 22.30. Kayak estafet penjemputan aja --''
Hari Sabtu, 7 April 2012, kita berame-rame (aku, Antoine, Laurence, Thibault, Sarah, Anaelle, dan Olden) berangkat ke Vendée, kota tetangga. Ada apakah di Vendée?? Kita ke Vendée untuk dateng ke Park yang bernama Puy du Fou. Park ini mendapat awards sebagai Le Meilleure Parc du Monde, alias the Best Park in the World, alias Taman Terbaik di Dunia. Ini park nggak kayak Dufan, Disney Land, maupun Trans Studio. Di park ini nggak ada bianglala, roller coaster, maupun arung jeram (wahana favorit gue di Dufan). Tapi, di sini kita disuguhi bermacam-macam spectacle alias pertunjukan *hasil search di Google --> lupa banyak istilah dalam bahasa Indonesia (╥﹏╥)
Resa, Sarah, Anaelle
Resa, Thibault
Dari banyak banget spectacle di Puy du Fou ini, ada 6 spectacle terbesar dan tertua. Tapi, aku cuma liat 5 doang dari 6 spectacle itu.. Spectacle pertama, gatau lupa namanya apa. Yang pasti, spectacle ini isinya burung-burung gitu.. Dari burung merpati, burung hantu, sampe burung elang. Dan burung-burung itu terbang tepat di atas kepala kita :O
Puy du Fou isinya nggak cuma spectacle-spectacle aja. Jadi, Puy du Fou ini ceritanya adalah sebuah desa di abad ke XVII kalo nggak salah. Dan settingnya bener-bener abad XVII bangeeeet..
Ini nih, spectacle favorit aku.. Namanya Les Vikings. Namanya juga vikings, jadi spectacle yang satu ini isinya tentang viking! *penjelasan nggak penting
Spectacle terbesar yang selanjutnya adalah lupa lagi namanya. Ini ceritanya kayak Colosseum Roma gitu.. Ada harimau dan macannya juga :O
Kalo biasanya kita liat spectacle outdoor, yang satu ini indoor. Tapi keren bangeeet.. Nggak paham juga ceritanya apaan waktu itu. Aku ngantuk bangeeeet, capek pula. Jadi cuma nonton aja tanpa meduliin spectacle ini nyeritain apa.
Yang terakhir adalah . . . nggak tau juga apa namanya. Aduh, intinya aku nggak ada yang inget lah apa aja nama spectacle nya -_________- Yang jelas, lagi-lagi kuda mendapatkan peran yang sangat penting di spectacle ini.
Sekian cerita dari Puy du Fou. Kita masuk park jam 10, dan keluar jam 7 malem. Nggak tau ini akunya yang kampungan, apa emang Perancis yang canggih. Tapi 5 spectacle yang aku liat itu bener-bener oke banget. Dari kapal bajak laut keluar dari danau, sampe air yang muncrat-muncrat di atas panggung indoor :O
***
Besok Minggunya, Repas de Pâques ! Artinya, makan-makan gitu dalam rangka hari Paskah..
Tapi, makan-makan ini bukan makan-makan biasa.. Kita ngundang para sepupu dan mamina, dan yang lebih unusual lagi, sebelum makan kita harus berburu coklat di taman. HAHAHA
VOILÂÂÂÂ ! Ini dia telur paskah ala Resa dan Laurence ! Kalo ini, gatau namanya telur ayam, apa ayam telur hihi
Habis makan, kita ke sebuah sungai di Chateauneuf. Di sana, kita nyewa 2 perahu kecil, terus jalan-jalan di sungai naik perahu deh :D
Besok Senin nya, habis makan-makan (lagi) kita main billyard di rumah. Yups, meja makan di rumah, kalo dibuka , berubah jadi meja billyard :)
Tiga tahun lalu, kita over dosis sama try out, soal-soal latian, dan les sana-sini. Buku pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan IPA jadi temen sehari-hari dari pagi sampe pagi lagi. Kita belajar mati-matian untuk menghadapi sebuah event yang hanya berlangsung selama 4 hari, tapi menentukan hidup kita selama 3 tahun kedepan. Itu sudah tiga tahun lalu, UNAS SMP 2009.
Tiga tahun sudah berlalu. Kadang masih nggak nyadar, "Hey, sekarang kita udah kelas dua belas!"
Sekarang, kalo online twitter, timeline hampir selalu dipenuhi oleh hal-hal yang berbau berbau UNAS 2012. Meskipun aku nggak (belum) bener-bener ngerasain atmosfer kelas dua belas itu, aku ikut stress juga .. huhu.. Bukan stress karna belajar, tapi stress ngebayangin tahun depan aku ada di posisi yang sama kayak temen-temen Padmanaba 67.
Aku denger cerita kalo nggak sedikit dari Padmanaba 67 yang matanya berkantung karna belajar dan kurang tidur. Aku juga denger kabar kalo banyak anak Padmanaba 67 yang jadi kelelawar, keluar rumah malem-malem demi les pelajaran. WOW !
Hari ini tepat sepuluh hari menjelang UNAS SMA 2012. Buat temen-temen yang sedang belajar maupun sedang tidak belajar, aku cuma mau ngucapin selamat berjuang! Semoga seluruh Padmanaba 67sukses UNAS, SNMPTN, dan tes masuk universitas lainnya. Semoga Padmanaba 67 diterima di jurusan dan universitas yang diinginkan :) Aaaaaamiiiin . . Aku berharap, aku bakal denger kabar gembira dari kalian semua waktu aku pulang nanti :D
Ini adalah cerita perjalananku dalam mengikuti program AFS,
mulai dari denger kata ‘AFS’, sampai 100 hari terakhir di negara perantauanku . . .
Aku udah
denger cerita tentang program ini sejak awal masuk SMA. Denger kabar Mbak Nadia
ke Perancis, Mbak Oli ke Itali, dan Mbak Isna ke Amerika Serikat melalui sebuah
program pertukaran pelajar bernama AFS.
Aku mulai search informasi-informasi tentang AFS. Liat
posternya, visit blog nya, baca artikel-artikelnya, dan saat itu juga aku
langsung download formulir pendaftaran program ini. Saat itu aku berimajinasi, suatu hari nanti aku bakal
terbang ke negeri seberang dengan AFS. Aku juga ngebayangin liat mamah nangis
di bandara waktu ngelepas kepergianku. Ya, itu adalah salah satu motivasiku
mengikuti program ini.
Suatu sore
sepulang sekolah, masih dengan berpakaian seragam abu-abu putih lengkap,
kudaftarkan diriku di kantor sekretariat Bina Antarbudaya (AFS) Chapter
Yogyakarta.
Minggu pagi, 9
Mei 2010, 628 anak usia SMA dengan mimpi luar biasa hadir untuk mengikuti
seleksi tahap pertama di UMY. Dengan mengerjakan 100 butir soal pengetahuan
umum, beberapa puluh butir soal Bahasa Inggris, dan sebuah perintah untuk
menulis essay, menjadi langkah awal perjuangan kami.
Hari yang
ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu pengumuman hasil seleksi AFS tahap 1. Kami bisa
mengakses hasil seleksi via blog AFS. Seperti ratusan anak lainnya, dengan rasa
optimis, aku nyari nomorku diantara 150 nomor yang tertera dalam sebuah posting
terbaru di blog itu. Alhamdulillah, keberuntungan berpihak padaku.Sambil
senyum, aku liat nomor 035, nomor
pendaftaranku.
150 peserta yang
lolos tahap 1 dibagi jadi 2 shift untuk ngikutin seleksi tahap 2, tanggal 6
Juni 2010 di MMTC. Seleksi tahap 2 itu meliputi wawancara dalam Bahasa Inggris,
dan wawancara kepribadian. Aku berangkat ke lokasi seleksi bareng Eringga
Irfiana. Kita dapet giliran wawancara di shift 2. Sambil nunggu giliran, kita
denger cerita dari kakak-kakak returnee AFS/YES/JENESYS tentang pengalaman luar
biasa mereka. Keinginanku untuk keluar negeri makin kuat. Akhirnya, namaku
dipanggil. Diawali dengan wawancara Bahasa Inggris, dan diakhiri oleh wawancara
kepribadian. Wawancara Bahasa Inggris berjalan dengan lancar. Aku justru
ngerasa lebih tegang waktu duduk di depan 4 orang juri di wawancara
kepribadian. Setelah sekitar 20 menit aku berhadapan dengan 4 orang hebat itu,
aku keluar dari ruangan, berkeringet dingin. Aku mulai pesimis kalo aku bakal
lolos di tahap kedua ini.
Sepesimis-pesimisnya
aku waktu itu, tetap tertanam sebuah harapan, aku bakal nemuin nomor 035 di
blog AFS 2 minggu setelah seleksi. Aku loncat-loncat kegirangan setelah nemuin
nomor yang aku harapin pada urutan keenam di posting yang ditunggu-tunggu itu..
20 Juni 2010, seleksi
tahap 3.
Aku berangkat ke
lokasi seleksi bareng beberapa siswa lain yang lolos dari SMA 3. Ternyata ada
sebuah kesalahan pada denah tempat seleksi yang kita liat di blog AFS. Alhasil,
kita telat begitu sampe di Realia. Di sana, aku ketemu 59 anak lain dari
seluruh Provinsi DIY, bahkan ada juga beberapa anak yang berasal dari Jawa
Tengah.
Seleksi tahap 3
ini adalah dinamika kelompok, dan sebuah wawancara yang lebih mirip kayak press
conference. Waktu nunggu giliran, seorang returnee bilang kalo siswa yang lolos
tahap 3 ini akan ditelepon langsung oleh kakak volunteer.
Sudah 3 minggu
berlalu sejak hari itu. Waktu itu aku sibuk banget karna jadi Pabhara di
kepanitiaan MOP di sekolah. Aku sedikit melupakaan kenyataan bahwa belum ada
satu pun kakak volunteer dari Bina Antarbudaya chapter Jogja yang nelepon aku. Aku pikir, mungkin emang hasil seleksi itu
belum selesai direkap.
Waktu lagi lomba
baris-berbaris untuk anak-anak kelas X yang merupakan salah satu rangkaian acara MOP,
Azka nanya, "Res, kamu udah ditelepon AFS belum?"
"Belum Az.. Kayaknya emang belum
selesai direkap deh hasilnya. Kamu udah?"
"Udah."
Habis Azka bilang
gitu, aku langsung nangis di depan anak-anak kelas X5, kelas yang jadi tanggung
jawabku dan Sadyapaka X5 lainnya. Anak-anak kelas X5 ngirain aku nangis karna takut mereka nggak bakal
menangin lomba baris-berbaris itu. Wkwkwk padahal aku nangis karna aku belum
ditelepon AFS.
Beberapa hari
kemudian, Mbak Dhian ngundang aku ke rumahnya untuk farewell party. Yups, Mbak
Dhian adalah anak Padmanaba 66 yang bakal berangkat taun 2010 ke USA. Waktu aku
pamitan pulang, aku peluk Mbak Dhian. Aku nangis di pelukannya Mbak Dhian,
minta doa biar aku bisa nyusulin Mbak Dhian, dan tetep lulus satu taun setelah
dia. Aku inget banget Mbak Dhian bilang, "Semangat Resa. Resa pasti ditelepon
kok. Ditunggu aja. Semangat semangat! Semoga Resa lolos, berangkat ke Jerman.
Amin." -- (waktu itu aku pengen banget berangkat ke Jerman).
Besoknya,
anak-anak Padmanaba 66 pada ngumpul rame-rame di lapangan tengah. Mereka pada
bawa spanduk yang isinya ucapan selamat jalan buat Mbak Dhian, Mbak Wisna, Mbak
Nisa, Mas Dinar, dan Mbak Janice. Waktu itu kelasku lagi mau pelajaran EC di tambun. Waktu
aku liat mereka pada foto-foto gitu, aku nangis. Aku ngebayangin Padmanaba 67
juga bakal ngelakuin hal yang sama taun depan, ditujuin buat anak-anak
Padmanaba yang bakal berangkat keluar. Dan aku lebih ngebayangin lagi, aku
adalah salah satu anak diantara temen-temen yang bakal keluar itu.
Suatu hari waktu
pulang sekolah, aku jalan lewat gerbang timur menuju ke parkiran. Di tempat
parkir, aku ketemu Kak Icx, returnee AFS. Aku nyapa Kak Icx. Ternyata Kak Icx
ke SMA 3 buat ngedaftarin Marven, anak AFS dari Jerman buat jadi host student di SMA 3.
Aku akhirnya tanya Kak Icx, yang intinya adalah aku belum ditelepon-telepon
sama AFS.
“Bentar.. Siapa namamu?“ Kak Icx
ngeluarin secarik kertas dari tasnya.
“035 kak, itu nomerku.“
“Bukan bukan.. Namamu..“
“Resa Masela..“
“Oooohh jadi kamu Resa Masela!“
-- DEG.
“Aku tuh berkali-kali nelepon
rumahmu tapi nggak bisa-bisa. Selamat ya nduk, kamu lolos tahap 3.“
“Beneran nih kak?“
“Iya..“
Aku langsung
loncat-loncat, terus meluk Kak Icx. *udah kayak orang gila waktu itu
Alhamdulillah..
Aku akhirnya lolos tahap 3. Senengnya bukan main. Setelah itu, kami, 25
kandidat dari chapter Jogja cuma bisa mendoakan berkas kami yang akan dikirim
dan diseleksi oleh AFS Nasional di Jakarta.
Lamaaa banget
nunggu kabar dari nasional. Aku bahkan nggak tau, seandainya lolos nanti, bakal
dikabarin lewat apa.
MID Semester 1
kelas XI.
Pagi itu, baru
aja masuk ruang ujian, aku liat Santi lagi ngobrol sama Ayu. Santi tanya, "Cha,
udah buka email belum?"
"Belum San. Ada apa emangnya?"
"Ada hasil nasional AFS. Cepet buka emailmu!"
"Kamu udah buka, San?"
"Udah."
"Gimana?"
Dia cuma
geleng-geleng kepala. Aku langsung buka email pake HP saat itu juga. Dan
Alhamdulillah, aku nemuin sebuah email baru di inbox, yang berisi username dan
password untuk log in AFS Participant Application :)
Besoknya, Santi
sambil senyum-senyum cerita ke aku bahwa dia juga lolos tahap nasional. Email dari AFS ternyata masuk spam, dan dia nggak tau. Aku
langsung meluk Santi waktu itu.
Pada suatu sore
yang cuacanya nggak begitu baik saat itu alias hujan, kami ngumpul di kantor
sekretariat AFS. Dari 628 pendaftar pada mulanya, ada 18 anak yang dateng di acara itu, sebagai kandidat nasional. 4 anak diantaranya adalah siswa SMA 3.
Orang tua dari Santi, Azka, Reza Rizky, Reza Arkan, Lala, Astari, Lintang,
Icha, Tama, Anin, Pandu, Desta, Ain, Ristam, Yusuf, Ayun, Galing, dan orangtuaku juga
hadir dalam acara itu.
Setelah itu, kami
mulai sibuk ngurus berkas dan aplikasi. Mulai dari imunisasi, nilai rapor,
nulis letter to hostfamily, dan lain-lain. Sampailah kami pada deadline yang
sudah ditentukan. Berkas dan online application yang sudah kami buat, dikirim
ke Jakarta. Lagi-lagi, hanya doa dan kehendak Allah yang akan memperjuangkan
berkas kami di tingkat internasional.
Satu persatu dari
kami mulai dapet placement. Pandu ke Jepang, sedangkan Astari, Icha, Santi,
Azka dan Lintang ke Amerika. Akhir April 2011 (antara tanggal 29 atau 30), aku
dapet telepon dari Mbak Cisya, returnee AFS waktu lagi tidur siang. *penting ya
detailnya?
"Resa, kamu tau nggak siapa aja yang
udah dapet kabar tentang placement dari nasional?"
"Enggak mbak.. Udah ada yang
dikabarin po dari Jogja?"
"Iya.."
"Aaaa siapa Mbak?"
"Kamu. Selamat ya.."
"HAH? Serius Mbak? Kemana?"
"Kamu baca aja di suratnya. Pasti
udah sampe kok."
"Aaaa.. siapa lagi Mbak yang udah dapet negara?"
"Belum tau, sejauh ini baru kamu
yang udah ada kabarnya."
Aku langsung lari
turun tangga, nyari surat yang dimaksud itu. Aku nemuin sebuah surat dengan
logo Bina Antarbudaya di amplopnya. Aku baca surat itu, dan aku nemuin sebuah
negara yang ditulis dengan format bold, Perancis.
Sejak saat itu,
aku mulai ngurus bermacem-macem berkas untuk dikirim ke AFS Perancis dengan
deadline yang sangat singkat. Padahal waktu itu aku lagi Ujian Semester 1. Aku juga sering share sama Lala,
yang Alhamdulillah udah dapet host country, Jerman.
Tapi rasa bahagia
kami nggak bener-bener sempurna. Kami dapet kabar kalo ada pemotongan kuota
dari internasional dan berbagai alasan lainnya yang menyebabkan beberapa teman
kami harus menerima kenyataan kalo mereka nggak bisa berangkat. Sakit itu nggak
cuma dirasain oleh mereka, tapi kami juga. Selama ini kita udah sering bareng,
jaga pendaftaran, jadi panitia untuk seleksi, dan sebagainya.. Meskipun hanya
ada 8 anak yang jadi kandidat year program, dan 2 anak yang jadi kandidat short
program, kita ber-18 tetep deket. Kita suka ngumpul, sepedaan bareng di Alkid, buber, dan lain-lain. We are still the Big-18,
and I'm proud of us :)
Orientasi Chapter.
Orientasi ini diikuti oleh aku, Lala, Santi, Azka, Astari
dan Lintang, yang bakal berangkat ke Eropa dan USA. Kita sering ngumpul
untuk berbagi cerita tentang tugas-tugas yang harus kita selesein untuk
orientasi, dan latihan untuk talent show. Kita ber-7 bener-bener deket.
Farewell Chapter.
Beberapa minggu sebelum orientasi nasional, chapter Jogja
ngadain farewell yang diselenggarain di Fish Market. Sebelum waktunya untuk
kami nunjukin talent show yang udah kami siapin berhari-hari, ditampilkanlah
slide yang berisi foto kami, hostcountry, dan dilengkapi oleh quote. Aku bisa
ngerasain mataku berair waktu itu.
Hap ! Inilah waktu kami untuk unjuk gigi. Drama
komedi-musikal yang terinspirasi dari cerita Roro Jonggrang menjadi talent show
kami. Di akhir talent show, sambil nyanyi, kami jalan berpencar di gedung itu,
narik tangan temen-temen Big-18 yang hadir dan ngajak mereka ke stage. We wouldn’t be there, showing our
talent show as candidates without them, the Big-18.
Orientasi dan Farewell Nasional.
Pada suatu hari
di bulan Juli 2011, kami ngumpul di Bandara Adisucipto untuk berangkat ke
Jakarta, menghadiri orientasi nasional. Temen-temen Padmanaba 67, kakak-kakak
returnee, dan beberapa temen dari Big-18 ikut hadir di Adisucipto.
Sampailah kami di
Wisma Handayani, Jakarta. Di sana, aku ketemu sama 91 anak-anak hebat dari
seluruh Indonesia yang bakal berangkat ke Eropa dan USA sebagai duta pelajar
Indonesia. Orientasi itu berlangsung selama 5 hari, dan diakhiri oleh talent
show sebagai persembahan kami untuk orangtua, kakak volunteer, dan semua orang
yang udah membantu kami sampai pada tahap ini. Setiap hari kami harus bangun
pagi untuk ngikutin sesi yang dimulai jam 8, dan tidur larut malem, jam 3 pagi
(Well, nggak tau ini namanya larut malem apa larut pagi --"). Di orientasi ini
kami bener-bener dibekali banyak pelajaran untuk mempersiapkan keberangkatan
kami.
5 hari orintasi
di Wisma Handayani sudah kami lewati. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu,
Farewell Party! Drama komedi-musikal bertema Kirana Kalbu Khatulistiwa kami
persembahkan untuk seluruh tamu undangan yang hadir. Setelah itu, satu persatu
nama kami dipanggil untuk penyematan pin merah-putih dan garuda oleh orangtua
masing-masing.
Hampir seluruh kandidat nangis, termasuk aku..
Beberapa hari
sebelum keberangkatan, aku ngumpul sama anak-anak. Mereka ngasih aku scrapbook
yang gedenyaaaa minta ampun buat kenang-kenangan :3 uuuuu unyu banget.. Dan di
hari terakhirku di Jogja, Fano dateng ke rumah, ngasih scrapbook buatannya, dan
kalung setengah hati yang bertuliskan namanya :)
Kamis, 1
September 2011.
Aku dan
keluargaku kumpul di Soekarno-Hatta, bareng Kenzo dan keluarganya, dan beberapa
kakak volunteer Bina Antarbudaya. Sampailah aku di suatu tahap, yaitu keberangkatan. Aku peluk
keluargaku satu-satu, dan aku seneng, aku berhasil bikin mamah nangis di
bandara. Seperti motivasiku dulu :)
2 September 2011, lebih dari 200 anak dari seluruh dunia sampai di Charles de
Gaulle Airport,Paris. Kita ngejalanin arrival orientation selama 2 hari. Di
hari terakhir, kami diajak keliling Paris naik bis, dan visit La Tour Eiffel.
EIFFEL ! Nggak peduli deh orang mau bilang norak kek, apa kek.. tapi aku nggak
munafik kalo aku emang seneng banget bisa liat Eiffel secara langsung.
Minggu, 4 September 2011, kita mulai
mencar, dikirim ke host city masing-maisng. Dan di stasiun Angers Saint Laud,
untuk pertama kalinya, aku ketemu host family ku, famille Le Roux.
Alhamdulillah, aku dapet host family yang baaaiiiiik banget.. Aku tinggal sama
Laurence (host mom), Antoine (host dad), Anaelle (host sist) dan Thibault (host
bro). Tapi, Anaelle sekolah di Paris, dan Thibault lagi AFS di New Zealand. Jadi, di rumah biasanya aku cuma sama host mom
dan host dad ku doang.. Aku tinggal di kota
kecil bernama Champigné. Saking kecilnya, sampe-sampe untuk sekolah, aku harus
ke Angers, kota
yang lebih besar. Aku sekolah di Lycée Sacré-Coeur, di kelas Première
Literature.
Minggu pertama di Perancis, aku sakit. Panas, pilek, batuk,
sakit tenggorokan, bahkan sampe muntah-muntah. Aku menyebutnya sebagai
adaptasi. Hihihi
Seminggu pertama di sekolah, aku kadang suka nangis pas
pelajaran. Aku juga selalu nangis waktu nunggu bis habis pulang sekolah. Di
hari terakhir sekolah pada minggu pertama (Jumat), aku nangis parah di kamar
mandi. Ditambah lagi, aku lagi sakit waktu itu. Terus ada guru yang datengin aku, dan bilang, “Everything’s
gonna be alright. I believe you can.”
Setelah 2
bulan di Perancis, seluruh anak-anak AFS di chapterku, chapter Maine, ngadain weekend
bareng. Waktu itu, kita share tentang progress selama 2 bulan ini, interaksi
dengan host family, temen-temen di sekolah, dan komunikasi dengan keluarga di
negara masing-masing. Mereka semua pada nggak percaya aku belum pernah skype
atau telepon sekalipun sama keluargaku sejak aku di Perancis. Tapi kakak
returnee di sana
malah pada salut gitu.. hahaha
Sepulang
dari weekend AFS, sebenernya aku udah janjian mau skype sama keluarga. Tapi pas
mau buka skype, aku malah nangis. Dan kebetulan, mamah sama papah juga ada
acara. Akhirnya, aku nggak jadi skype.
Hari-hariku
di sekolah makin membaik di bulan ketiga. Aku mulai nggak ngerasa kesepian. Dan
di bulan ketiga, aku ketemu sama Bunga, anak Rotary dari Bandung
yang ternyata hosted di Angers.
Akhirnya, setelah 3.5 bulan aku di Perancis, aku skype sama keluarga di Indonesia untuk
pertamakalinya. Dan aku nggak nangis.. hahaha
Aku mulai
bener-bener have fun di sini setelah masuk bulan ke-5. Aku mulai paham seluruh
conversation, bisa mulai bercanda dalam bahasa Perancis, kadang mimpi dalam
bahasa Perancis, dan banyak hal lainnya. Thibault juga udah balik dari New Zealand.
Jadi, aku ada temen di rumah..
Sekarang
aku udah memasuki bulan ke-7. Dari 310 hari yang ada, aku udah ngelewatin 210
hari di negeri ini.
Aku ngerasa
beruntung banget, bisa berangkat ke Perancis, jadi duta cilik Indonesia. Buat sebagian orang,
mungkin ke luar negeri bukanlah hal yang besar. Tapi, buat aku, keluar negeri
selama satu taun, tanpa keluarga atau temen-temen, ngelewatin seleksi
yang lamanya mencapai kurang lebih 1.5 taun dan menyisihkan ribuan anak lainnya, adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Aku
belajar banyak banget dari seluruh proses ini, mulai dari seleksi, sampai di hari ke-210 ku ini.
Belajar sabar, belajar ngatasin homesick, belajar mandiri, belajar nyelesein
masalah tanpa campur tangan keluarga atau temen, belajar untuk menerima culture
negara lain yang jauh berbeda, belajar untuk jadi lebih dewasa, open minded, belajar bersosialisasi, dan banyak hal lainnya.
Beberapa hari yang lalu, aku nangis di bis, kayak sebulan
pertama aku di Perancis. Tapi kali ini aku nangis bukan karna homesick. Aku
nangis karna aku nggak pengen pulang. Well, yaa.. aku nggak munafik. Aku pengen
pulang, liat keluargaku, temen-temenku, dan makan mie ayam (?). Tapi aku nggak
pengen ninggalin keluarga, temen-temen, sekolah, dan semua yang aku punya di
sini..
Dalam 100 hari, aku bakal ada di Charles de Gaulle Airport lagi.
Dalam 101 hari, aku bakal liat siluet matahari terbenam di
lagit Jakarta.
Dan aku cuma punya 100 hari yang tersisa, untuk aku
manfaatin sebaik-baiknya di Perancis.
Oh God, I’m
really falling in love with a country called France.