Showing posts with label France and Indonesia. Show all posts
Showing posts with label France and Indonesia. Show all posts

Monday, April 2, 2012

It's Hard to Realize that I Just Have 100 Days Left in France


Ini adalah cerita perjalananku dalam mengikuti program AFS, mulai dari denger kata ‘AFS’, sampai 100 hari terakhir di negara perantauanku . . .

Aku udah denger cerita tentang program ini sejak awal masuk SMA. Denger kabar Mbak Nadia ke Perancis, Mbak Oli ke Itali, dan Mbak Isna ke Amerika Serikat melalui sebuah program pertukaran pelajar bernama AFS.

Aku mulai search informasi-informasi tentang AFS. Liat posternya, visit blog nya, baca artikel-artikelnya, dan saat itu juga aku langsung download formulir pendaftaran program ini. Saat itu aku berimajinasi, suatu hari nanti aku bakal terbang ke negeri seberang dengan AFS. Aku juga ngebayangin liat mamah nangis di bandara waktu ngelepas kepergianku. Ya, itu adalah salah satu motivasiku mengikuti program ini.

Suatu sore sepulang sekolah, masih dengan berpakaian seragam abu-abu putih lengkap, kudaftarkan diriku di kantor sekretariat Bina Antarbudaya (AFS) Chapter Yogyakarta.

Minggu pagi, 9 Mei 2010, 628 anak usia SMA dengan mimpi luar biasa hadir untuk mengikuti seleksi tahap pertama di UMY. Dengan mengerjakan 100 butir soal pengetahuan umum, beberapa puluh butir soal Bahasa Inggris, dan sebuah perintah untuk menulis essay, menjadi langkah awal perjuangan kami.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu pengumuman hasil seleksi AFS tahap 1. Kami bisa mengakses hasil seleksi via blog AFS. Seperti ratusan anak lainnya, dengan rasa optimis, aku nyari nomorku diantara 150 nomor yang tertera dalam sebuah posting terbaru di blog itu. Alhamdulillah, keberuntungan berpihak padaku.Sambil senyum, aku liat nomor  035, nomor pendaftaranku.

150 peserta yang lolos tahap 1 dibagi jadi 2 shift untuk ngikutin seleksi tahap 2, tanggal 6 Juni 2010 di MMTC. Seleksi tahap 2 itu meliputi wawancara dalam Bahasa Inggris, dan wawancara kepribadian. Aku berangkat ke lokasi seleksi bareng Eringga Irfiana. Kita dapet giliran wawancara di shift 2. Sambil nunggu giliran, kita denger cerita dari kakak-kakak returnee AFS/YES/JENESYS tentang pengalaman luar biasa mereka. Keinginanku untuk keluar negeri makin kuat.
Akhirnya, namaku dipanggil. Diawali dengan wawancara Bahasa Inggris, dan diakhiri oleh wawancara kepribadian. Wawancara Bahasa Inggris berjalan dengan lancar. Aku justru ngerasa lebih tegang waktu duduk di depan 4 orang juri di wawancara kepribadian. Setelah sekitar 20 menit aku berhadapan dengan 4 orang hebat itu, aku keluar dari ruangan, berkeringet dingin. Aku mulai pesimis kalo aku bakal lolos di tahap kedua ini.

Sepesimis-pesimisnya aku waktu itu, tetap tertanam sebuah harapan, aku bakal nemuin nomor 035 di blog AFS 2 minggu setelah seleksi. Aku loncat-loncat kegirangan setelah nemuin nomor yang aku harapin pada urutan keenam di posting yang ditunggu-tunggu itu..

20 Juni 2010, seleksi tahap 3.
Aku berangkat ke lokasi seleksi bareng beberapa siswa lain yang lolos dari SMA 3. Ternyata ada sebuah kesalahan pada denah tempat seleksi yang kita liat di blog AFS. Alhasil, kita telat begitu sampe di Realia. Di sana, aku ketemu 59 anak lain dari seluruh Provinsi DIY, bahkan ada juga beberapa anak yang berasal dari Jawa Tengah.
Seleksi tahap 3 ini adalah dinamika kelompok, dan sebuah wawancara yang lebih mirip kayak press conference. Waktu nunggu giliran, seorang returnee bilang kalo siswa yang lolos tahap 3 ini akan ditelepon langsung oleh kakak volunteer.

Sudah 3 minggu berlalu sejak hari itu. Waktu itu aku sibuk banget karna jadi Pabhara di kepanitiaan MOP di sekolah. Aku sedikit melupakaan kenyataan bahwa belum ada satu pun kakak volunteer dari Bina Antarbudaya chapter Jogja yang nelepon aku. Aku pikir, mungkin emang hasil seleksi itu belum selesai direkap.
Waktu lagi lomba baris-berbaris untuk anak-anak kelas X yang merupakan salah satu rangkaian acara MOP, Azka nanya, "Res, kamu udah ditelepon AFS belum?"
            "Belum Az.. Kayaknya emang belum selesai direkap deh hasilnya. Kamu udah?"
            "Udah."
Habis Azka bilang gitu, aku langsung nangis di depan anak-anak kelas X5, kelas yang jadi tanggung jawabku dan Sadyapaka X5 lainnya. Anak-anak kelas X5 ngirain aku nangis karna takut mereka nggak bakal menangin lomba baris-berbaris itu. Wkwkwk padahal aku nangis karna aku belum ditelepon AFS.

Beberapa hari kemudian, Mbak Dhian ngundang aku ke rumahnya untuk farewell party. Yups, Mbak Dhian adalah anak Padmanaba 66 yang bakal berangkat taun 2010 ke USA. Waktu aku pamitan pulang, aku peluk Mbak Dhian. Aku nangis di pelukannya Mbak Dhian, minta doa biar aku bisa nyusulin Mbak Dhian, dan tetep lulus satu taun setelah dia. Aku inget banget Mbak Dhian bilang, "Semangat Resa. Resa pasti ditelepon kok. Ditunggu aja. Semangat semangat! Semoga Resa lolos, berangkat ke Jerman. Amin." -- (waktu itu aku pengen banget berangkat ke Jerman).

Besoknya, anak-anak Padmanaba 66 pada ngumpul rame-rame di lapangan tengah. Mereka pada bawa spanduk yang isinya ucapan selamat jalan buat Mbak Dhian, Mbak Wisna, Mbak Nisa, Mas Dinar, dan Mbak Janice. Waktu itu kelasku lagi mau pelajaran EC di tambun. Waktu aku liat mereka pada foto-foto gitu, aku nangis. Aku ngebayangin Padmanaba 67 juga bakal ngelakuin hal yang sama taun depan, ditujuin buat anak-anak Padmanaba yang bakal berangkat keluar. Dan aku lebih ngebayangin lagi, aku adalah salah satu anak diantara temen-temen yang bakal keluar itu.

Suatu hari waktu pulang sekolah, aku jalan lewat gerbang timur menuju ke parkiran. Di tempat parkir, aku ketemu Kak Icx, returnee AFS. Aku nyapa Kak Icx. Ternyata Kak Icx ke SMA 3 buat ngedaftarin Marven, anak AFS dari Jerman buat jadi host student di SMA 3. Aku akhirnya tanya Kak Icx, yang intinya adalah aku belum ditelepon-telepon sama AFS.
            “Bentar.. Siapa namamu?“ Kak Icx ngeluarin secarik kertas dari tasnya.
            “035 kak, itu nomerku.“
            “Bukan bukan.. Namamu..“
            “Resa Masela..“
            “Oooohh jadi kamu Resa Masela!“
-- DEG.
            “Aku tuh berkali-kali nelepon rumahmu tapi nggak bisa-bisa. Selamat ya nduk, kamu lolos tahap 3.“
            “Beneran nih kak?“
            “Iya..“
Aku langsung loncat-loncat, terus meluk Kak Icx. *udah kayak orang gila waktu itu

Alhamdulillah.. Aku akhirnya lolos tahap 3. Senengnya bukan main. Setelah itu, kami, 25 kandidat dari chapter Jogja cuma bisa mendoakan berkas kami yang akan dikirim dan diseleksi oleh AFS Nasional di Jakarta.

Lamaaa banget nunggu kabar dari nasional. Aku bahkan nggak tau, seandainya lolos nanti, bakal dikabarin lewat apa.

MID Semester 1 kelas XI.
Pagi itu, baru aja masuk ruang ujian, aku liat Santi lagi ngobrol sama Ayu. Santi tanya, "Cha, udah buka email belum?"
            "Belum San. Ada apa emangnya?"
            "Ada hasil nasional AFS. Cepet buka emailmu!"
            "Kamu udah buka, San?"
            "Udah."
            "Gimana?"
Dia cuma geleng-geleng kepala. Aku langsung buka email pake HP saat itu juga. Dan Alhamdulillah, aku nemuin sebuah email baru di inbox, yang berisi username dan password untuk log in AFS Participant Application :)

Besoknya, Santi sambil senyum-senyum cerita ke aku bahwa dia juga lolos tahap nasional. Email dari AFS ternyata masuk spam, dan dia nggak tau. Aku langsung meluk Santi waktu itu.

Pada suatu sore yang cuacanya nggak begitu baik saat itu alias hujan, kami ngumpul di kantor sekretariat AFS. Dari 628 pendaftar pada mulanya, ada 18 anak yang dateng di acara itu, sebagai kandidat nasional. 4 anak diantaranya adalah siswa SMA 3. Orang tua dari Santi, Azka, Reza Rizky, Reza Arkan, Lala, Astari, Lintang, Icha, Tama, Anin, Pandu, Desta, Ain, Ristam, Yusuf, Ayun, Galing, dan orangtuaku juga hadir dalam acara itu.
Setelah itu, kami mulai sibuk ngurus berkas dan aplikasi. Mulai dari imunisasi, nilai rapor, nulis letter to hostfamily, dan lain-lain. Sampailah kami pada deadline yang sudah ditentukan. Berkas dan online application yang sudah kami buat, dikirim ke Jakarta. Lagi-lagi, hanya doa dan kehendak Allah yang akan memperjuangkan berkas kami di tingkat internasional.

Satu persatu dari kami mulai dapet placement. Pandu ke Jepang, sedangkan Astari, Icha, Santi, Azka dan Lintang ke Amerika. Akhir April 2011 (antara tanggal 29 atau 30), aku dapet telepon dari Mbak Cisya, returnee AFS waktu lagi tidur siang. *penting ya detailnya?
            "Resa, kamu tau nggak siapa aja yang udah dapet kabar tentang placement dari nasional?"
            "Enggak mbak.. Udah ada yang dikabarin po dari Jogja?"
            "Iya.."
            "Aaaa siapa Mbak?"
            "Kamu. Selamat ya.."
            "HAH? Serius Mbak? Kemana?"
            "Kamu baca aja di suratnya. Pasti udah sampe kok."
            "Aaaa.. siapa lagi Mbak yang udah dapet negara?"
            "Belum tau, sejauh ini baru kamu yang udah ada kabarnya."
Aku langsung lari turun tangga, nyari surat yang dimaksud itu. Aku nemuin sebuah surat dengan logo Bina Antarbudaya di amplopnya. Aku baca surat itu, dan aku nemuin sebuah negara yang ditulis dengan format bold, Perancis.

Sejak saat itu, aku mulai ngurus bermacem-macem berkas untuk dikirim ke AFS Perancis dengan deadline yang sangat singkat. Padahal waktu itu aku lagi Ujian Semester 1. Aku juga sering share sama Lala, yang Alhamdulillah udah dapet host country, Jerman.

Tapi rasa bahagia kami nggak bener-bener sempurna. Kami dapet kabar kalo ada pemotongan kuota dari internasional dan berbagai alasan lainnya yang menyebabkan beberapa teman kami harus menerima kenyataan kalo mereka nggak bisa berangkat. Sakit itu nggak cuma dirasain oleh mereka, tapi kami juga. Selama ini kita udah sering bareng, jaga pendaftaran, jadi panitia untuk seleksi, dan sebagainya.. Meskipun hanya ada 8 anak yang jadi kandidat year program, dan 2 anak yang jadi kandidat short program, kita ber-18 tetep deket. Kita suka ngumpul, sepedaan bareng di Alkid, buber, dan lain-lain. We are still the Big-18, and I'm proud of us :)

Orientasi Chapter.
Orientasi ini diikuti oleh aku, Lala, Santi, Azka, Astari dan Lintang, yang bakal berangkat ke Eropa dan USA. Kita sering ngumpul untuk berbagi cerita tentang tugas-tugas yang harus kita selesein untuk orientasi, dan latihan untuk talent show. Kita ber-7 bener-bener deket.

Farewell Chapter.
Beberapa minggu sebelum orientasi nasional, chapter Jogja ngadain farewell yang diselenggarain di Fish Market. Sebelum waktunya untuk kami nunjukin talent show yang udah kami siapin berhari-hari, ditampilkanlah slide yang berisi foto kami, hostcountry, dan dilengkapi oleh quote. Aku bisa ngerasain mataku berair waktu itu.
Hap ! Inilah waktu kami untuk unjuk gigi. Drama komedi-musikal yang terinspirasi dari cerita Roro Jonggrang menjadi talent show kami. Di akhir talent show, sambil nyanyi, kami jalan berpencar di gedung itu, narik tangan temen-temen Big-18 yang hadir dan ngajak mereka ke stage. We wouldn’t be there, showing our talent show as candidates without them, the Big-18.




Orientasi dan Farewell Nasional.
Pada suatu hari di bulan Juli 2011, kami ngumpul di Bandara Adisucipto untuk berangkat ke Jakarta, menghadiri orientasi nasional. Temen-temen Padmanaba 67, kakak-kakak returnee, dan beberapa temen dari Big-18 ikut hadir di Adisucipto.



Sampailah kami di Wisma Handayani, Jakarta. Di sana, aku ketemu sama 91 anak-anak hebat dari seluruh Indonesia yang bakal berangkat ke Eropa dan USA sebagai duta pelajar Indonesia. Orientasi itu berlangsung selama 5 hari, dan diakhiri oleh talent show sebagai persembahan kami untuk orangtua, kakak volunteer, dan semua orang yang udah membantu kami sampai pada tahap ini. Setiap hari kami harus bangun pagi untuk ngikutin sesi yang dimulai jam 8, dan tidur larut malem, jam 3 pagi (Well, nggak tau ini namanya larut malem apa larut pagi --"). Di orientasi ini kami bener-bener dibekali banyak pelajaran untuk mempersiapkan keberangkatan kami.
5 hari orintasi di Wisma Handayani sudah kami lewati. Tibalah hari yang ditunggu-tunggu, Farewell Party! Drama komedi-musikal bertema Kirana Kalbu Khatulistiwa kami persembahkan untuk seluruh tamu undangan yang hadir. Setelah itu, satu persatu nama kami dipanggil untuk penyematan pin merah-putih dan garuda oleh orangtua masing-masing.




Hampir seluruh kandidat nangis, termasuk aku..







Beberapa hari sebelum keberangkatan, aku ngumpul sama anak-anak. Mereka ngasih aku scrapbook yang gedenyaaaa minta ampun buat kenang-kenangan :3 uuuuu unyu banget.. Dan di hari terakhirku di Jogja, Fano dateng ke rumah, ngasih scrapbook buatannya, dan kalung setengah hati yang bertuliskan namanya :)

Kamis, 1 September 2011.
Aku dan keluargaku kumpul di Soekarno-Hatta, bareng Kenzo dan keluarganya, dan beberapa kakak volunteer Bina Antarbudaya. Sampailah aku di suatu tahap, yaitu keberangkatan. Aku peluk keluargaku satu-satu, dan aku seneng, aku berhasil bikin mamah nangis di bandara. Seperti motivasiku dulu :)

2 September 2011, lebih dari 200 anak dari seluruh dunia sampai di Charles de Gaulle Airport, Paris. Kita ngejalanin arrival orientation selama 2 hari. Di hari terakhir, kami diajak keliling Paris naik bis, dan visit La Tour Eiffel. EIFFEL ! Nggak peduli deh orang mau bilang norak kek, apa kek.. tapi aku nggak munafik kalo aku emang seneng banget bisa liat Eiffel secara langsung.

Minggu, 4 September 2011, kita mulai mencar, dikirim ke host city masing-maisng. Dan di stasiun Angers Saint Laud, untuk pertama kalinya, aku ketemu host family ku, famille Le Roux. Alhamdulillah, aku dapet host family yang baaaiiiiik banget.. Aku tinggal sama Laurence (host mom), Antoine (host dad), Anaelle (host sist) dan Thibault (host bro). Tapi, Anaelle sekolah di Paris, dan Thibault lagi AFS di New Zealand. Jadi, di rumah biasanya aku cuma sama host mom dan host dad ku doang.. Aku tinggal di kota kecil bernama Champigné. Saking kecilnya, sampe-sampe untuk sekolah, aku harus ke Angers, kota yang lebih besar. Aku sekolah di Lycée Sacré-Coeur, di kelas Première Literature.
Minggu pertama di Perancis, aku sakit. Panas, pilek, batuk, sakit tenggorokan, bahkan sampe muntah-muntah. Aku menyebutnya sebagai adaptasi. Hihihi
Seminggu pertama di sekolah, aku kadang suka nangis pas pelajaran. Aku juga selalu nangis waktu nunggu bis habis pulang sekolah. Di hari terakhir sekolah pada minggu pertama (Jumat), aku nangis parah di kamar mandi. Ditambah lagi, aku lagi sakit waktu itu. Terus ada guru yang datengin aku, dan bilang, “Everything’s gonna be alright. I believe you can.”

Setelah 2 bulan di Perancis, seluruh anak-anak AFS di chapterku, chapter Maine, ngadain weekend bareng. Waktu itu, kita share tentang progress selama 2 bulan ini, interaksi dengan host family, temen-temen di sekolah, dan komunikasi dengan keluarga di negara masing-masing. Mereka semua pada nggak percaya aku belum pernah skype atau telepon sekalipun sama keluargaku sejak aku di Perancis. Tapi kakak returnee di sana malah pada salut gitu.. hahaha
Sepulang dari weekend AFS, sebenernya aku udah janjian mau skype sama keluarga. Tapi pas mau buka skype, aku malah nangis. Dan kebetulan, mamah sama papah juga ada acara. Akhirnya, aku nggak jadi skype.

Hari-hariku di sekolah makin membaik di bulan ketiga. Aku mulai nggak ngerasa kesepian. Dan di bulan ketiga, aku ketemu sama Bunga, anak Rotary dari Bandung yang ternyata hosted di Angers. Akhirnya, setelah 3.5 bulan aku di Perancis, aku skype sama keluarga di Indonesia untuk pertamakalinya. Dan aku nggak nangis.. hahaha

Aku mulai bener-bener have fun di sini setelah masuk bulan ke-5. Aku mulai paham seluruh conversation, bisa mulai bercanda dalam bahasa Perancis, kadang mimpi dalam bahasa Perancis, dan banyak hal lainnya. Thibault juga udah balik dari New Zealand. Jadi, aku ada temen di rumah..

Sekarang aku udah memasuki bulan ke-7. Dari 310 hari yang ada, aku udah ngelewatin 210 hari di negeri ini.
Aku ngerasa beruntung banget, bisa berangkat ke Perancis, jadi duta cilik Indonesia. Buat sebagian orang, mungkin ke luar negeri bukanlah hal yang besar. Tapi, buat aku, keluar negeri selama satu taun, tanpa keluarga atau temen-temen, ngelewatin seleksi yang lamanya mencapai kurang lebih 1.5 taun dan menyisihkan ribuan anak lainnya, adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Aku belajar banyak banget dari seluruh proses ini, mulai dari seleksi, sampai di hari ke-210 ku ini. Belajar sabar, belajar ngatasin homesick, belajar mandiri, belajar nyelesein masalah tanpa campur tangan keluarga atau temen, belajar untuk menerima culture negara lain yang jauh berbeda, belajar untuk jadi lebih dewasa, open minded, belajar bersosialisasi, dan banyak hal lainnya.
Beberapa hari yang lalu, aku nangis di bis, kayak sebulan pertama aku di Perancis. Tapi kali ini aku nangis bukan karna homesick. Aku nangis karna aku nggak pengen pulang. Well, yaa.. aku nggak munafik. Aku pengen pulang, liat keluargaku, temen-temenku, dan makan mie ayam (?). Tapi aku nggak pengen ninggalin keluarga, temen-temen, sekolah, dan semua yang aku punya di sini..

Dalam 100 hari, aku bakal ada di Charles de Gaulle Airport lagi.
Dalam 101 hari, aku bakal liat siluet matahari terbenam di lagit Jakarta.
Dan aku cuma punya 100 hari yang tersisa, untuk aku manfaatin sebaik-baiknya di Perancis.
Oh God, I’m really falling in love with a country called France.

Saturday, January 7, 2012

Antara Tempe dan Keju

Setelah sekitar 4 bulan aku tinggal dan menjalani hidup sebagai anak ABG Perancis (cieeehh) --> lebay, aku bisa liat banyak banget perbedaan antara Indonesia sama Perancis, dari hal kecil, hal sedengan (?) , sampe hal yang besar.

  1. In France, a lot of people walk in the city. Nggak kayak kita, yang dari rumah ke depan komplek buat beli gula aja naik motor, orang Perancis doyan banget jalan kaki. 1km aja berasa deket buat mereka.
  2. Driving on the right side. Pas masih awal-awal di sini, suka nggak sadar jalan ke arah pintu mobil di sebelah kiri. Padahal itu tempat supir hahaha
  3. They never forget to wear the seat belt. Kalo kita, boro-boro penumpang, supir nya aja suka lupa atau bahkan males pake seat belt.
  4. Some highways here such as toll roads in Indonesia. Yups, kualitas jalan raya di sini bagus-bagus. Nggak kayak di Indonesia, jalan raya banyak yang bolong-bolong :p
  5. Green everywhere. Di sini, from a town to another town (baca: kecamatan), kita musti ngelewatin hutan, padang rumput, dan tanpa lampu jalan. Kebayang kalo di Indonesia nyetir mobil malem-malem ngelewatin jalan kayak gitu, kita pasti langsung berkhayal tentang film horror.
  6. Sometimes animal crosses the road. Nggak heran deh banyak peringatan di jalan raya yang gambarnya rusa. Di sini, hewan-hewan yang hidup di hutan kayak rusa, babi hutan, kelinci, anjing, atau kucing suka nyebrang jalan raya tanpa liat kanan-kiri (yaiyalah).
  7. Saying bonjour and au revoir is like a habit.
  8. They kiss on the cheek when say bonjour and au revoir. Ya nggak semuanya juga kan.. masa iya pas naik ke bis terus nempelin pipi ke supir nya? Nempelin pipi sambil bilang muah muah, dilakuin cuma sama orang yang udah kita kenal.
  9. All of the students have an agenda. Semua anak, dari yang cewek sampe yang cowok, dari yang paling pinter sampe yang paling biasa aja, dari yang rajin sampe yang rada malesan, mereka punya BUKU AGENDA. Kalo kita, tiap malem sms temen nanya PR atau ulangan, atau malah sering lupa kalo besoknya jam pertama ada ulangan, atau bahkan ada yang nggak tau (curhat). Kalo mereka, semuanya dicatet di buku agenda masing-masing.
  10. French girls use make-up and high heels to school. Yah, minimal mascara lah, pasti pada make.. Malah, ada yang pake anting-anting yang gede-gede dan berkerincing kalo kepala mereka goyang wkwkwk .. Nggak semuanya juga sih, tapi banyak banget yang pada pake high heels..
  11. You can kiss or hug your boyfriend/girlfriend anywhere you want. Udah jadi pemandangan yang sangat biasa ngeliat anak-anak di sekolah pada ciuman, pelukan, pangku-pangkuan.. Nggak peduli ada guru yang lewat. Bayangin deh kalo kita ngelakuin itu di Indonesia.. Ujung-ujungnya --> kantor BK.
  12. Put your feet on the table or another chair is not a problem. Wuhuuuu, ada guru pun banyak anak sini yang duduk nya se pewe nya sendiri :p
  13. Students follow the rules. Mereka pada nggak main HP di kelas. Ada juga sih yang suka main HP, tapi sembunyi-sembunyi. Coba kita, HP aja ditaruh di atas meja. Di sini juga nggak bias bolos seenaknya. Musti ada ijin (bukan bolos dong namanya). Coba bandingkan dengan kita (baca: P*dmanaba) tinggal bilang sakit, mau ke UKS, beres deh :)
  14. They use calculator for exams. Di sini bahkan gurunya ngajarin gimana ngitung rumus yang cukup ribet diitung secara manual pake kalkulator, dan padahal, angka-angka hitungan di sini masih wajar-wajar aja.. Nah kita? Ulangan matematika yang angkanya kayak nomer HP aja, nggak boleh pake kalkulator -____-
  15. They don’t use so much oil. Mereka nggak banyak masak pake minyak. Buat makan ikan, ayam, atau daging, biasanya dimasukin oven gitu aja. Kalo enggak daging dipanasin di atas wajan tanpa minyak, dan kadang bahkan tanpa mentega.
  16. They way they cook seems simpler than us. Mereka masaknya simpel banget. Masak ayam, cuma dikasih garem sama merica aja udah oke kayaknya buat mereka. Mereka kalo makan seafood kayak udang, kepiting, atau kerang, cuma direbus aja pake bumbu instant (hampir nggak ada rasanya), dan didiemin sampe dingin. Nah kalo kita? Ada bumbu asem manis lah, bumbu rujak lah, apalah . .
  17. They like raw beef. Kalo kita, makan musti mateng teng teng, mereka suka makan daging sapi yang nggak terlalu mateng, alias setengah mateng, bahkan seperempat mateng. Ada juga menu di restoran yang isinya daging sapi mentah --''
  18. If we go to the restaurant, they will give us free water without we asked to. Yuhuuu . . air putih di sini gratis.. Air dari keran juga bisa diminum.. Jadi inget, pernah liat di sebuah rumah makan, untuk dapet air putih aja bayar 300 perak wkwkwk
  19. There will be always some breads on the dining table. Yuhuuuu, kita bakal selalu nemuin baguette, atau semacamnya waktu orang Perancis makan. Jadi kalo pas orang Indonesia makan selalu ada sambel sama tempe, kalo pas orang Perancis makan selalu ada roti sama keju :)
  20. A meal without cheese isn’t complete. Bahkan ada semboyan yang artinya gini: Seperti perempuan tanpa eyeshadow, makan nggak lengkap tanpa keju.
  21. They take a lot of time for eat. Sebenernya bukan berarti mereka lambat kalo makan. Tapi, di sini kalo makan, nggak kayak di Indonesia, yang cuma makan nasi sama lauk, terus minum, terus selesai. Di sini, untuk makan besar (ex. Ngundang sodara atau makan sama temen)  ada yang namanya aperitif (makanan ringan, snack, kacang, cocktails), terus habis itu makan entré (makanan sebelum makanan utama, misalnya sup, salmon asap, dll). Terus, baru deh masu ke makanan utama. Habis makanan utama, nggak selesai gitu aja. Perjalanan makan ini dilanjutkan ke salad, terus keju. Dan habis makan keju, kita makan dessert. Dan dan dan dan daaann . . . habis dessert, ada juga yang ngelanjutin pake minum kopi. Jadi, mereka kalo pas makan besar gitu, misalnya dimulai jam 1, selesainya jam 4 sore. Suatu hari ada sodaranya host ku yang bilang, “Kalo di Indonesia orang makan untuk hidup, di Perancis orang hidup untuk makan.” Hahahahhaa
  22. There is always hot water in all of the houses. Yuhuuu . . bahkan mereka nyuci piring aja pake air panas!
  23. They take a bath once a day. Coba kalo kita yang tinggal di ekuator gini mandinya sekali sehari.. ampun deh --''
  24. There is not a lot of motorcycle here. Kebalikannya Jogja banget, hampir semua anak SMA dibekali sebuah motor ke sekolah.
  25. Most of students go to school by bus. Dari anak SD yang masih cimi-cimi, sampe anak kuliahan, banyak yang berangkat menuntut ilmu ke tujuan masing-masing naik bis. Untuk jalan-jalan ketemuan sama temen pun, pada naik bis juga. Under 18 dan nggak punya SIM, pada nggak berani naik mobil sendirian tanpa didampingi orang tua.
  26. Many houses with dishwasher inside. Mereka pake mesin nggak cuma pas nyuci baju aja, nyuci piring pun pake mesin.
  27. Alcohol is everywhere. Kita bakal nemu alkohol dimana-mana. Hal yang biasa aja di sini, orang minum alkohol kayak wine, beer, dan semacamnya.
  28. They don’t pay to have the medical service in the hospital. Kalo kita, ASKES atau apapun lah asuransi kesehatan dari pemerintah, kadang bisa dipakenya cuma buat penyakit yang ringan-ringan aja. Di sini, kalo cuma batuk, sakit kepala, atau semacamnya, kita malah harus bayar sendiri buat beli obat. Tapi kalo sakit parah kayak kanker, sakit jantung, dan sebagainya, gratis tis tiiiisss !
  29. There is no VIP class in the hospital. Gratis di rumah sakit itu cuma buat pelayanan kesehatannya aja. Tapi untuk biaya kamar, nyuci seprai, dll tetep bayar, dengan harga yang relatif murah untuk orang Perancis. Di sini juga nggak kayak di Indonesia yang bisa milih kelas kayak VIP, VVIP, kelas 1, kelas 2, di rumah sakit..
  30. No mutiple-choice in the tests. Kalo kita nih, apa-apa pasti pilihan ganda.. Dari ulangan harian, sampe UNAS, sampe SNMPTN, 95% soalnya pilihan ganda. Kalo di sini, soalnya essay semua.. Mana essay nya nggak cuma sekedar essay. Mereka kalo ulangan, kertasnya bisa 4 lembar sendiri, buat nulis essay, kritik, analisis, disertasi, dekomposisi, dll.. Duh duh duuuuhh --''
  31. Ada ruangan di atap. Yuhuuu kalo kita, loteng yang biasanya jadi sarang tikus, di sini dijadiin kamar, ruang TV, dan sebagainya. Jadi ada jendelanya gitu diantara genteng-genteng. Kalo kita liat rumah-rumah di sini, keliatannya pada nggak tingkat. Tapi sebenernya mereka punya tingkat, cuma di atap.. Tapi asik juga sih, kamar ku di sini di atap loh :p
  32. Mostly, they have pets. Kayaknya rada susah juga nyari rumah yang nggak ada hewan peliharaannya di Perancis..
  33. Many people use SAMSUNG. Di Indonesia, biasanya kita liat orang-orang pada pake NOKIA, atau SE, dan baru-baru ini heboh banget pada pake BB. Kalo di sini, kebanyakan SAMSUNG..
  34. Often, cars stop if we want to cross the street. Huehehehe.. di sini, kita baru berdiri aja di pinggir jalan ngadep ke jalan, dan berniat nyebrang jalan, mobil yang tadinya kenceng pada berhenti gitu.. Coba aja di Indonesia, udah diklakson-klakson, dan parah-parahnya ketabrak kali.. *sinetron nggak bakalan deh take place in France kalo  mau nyesuain kenyataan :p
  35. Each student has different timetable. Rada bingung juga waktu pertama masuk sekolah.. Kita punya jadwal sekelas beda-beda.. Kalo di Padmanaba sekelas bareng terus (beda cuma buat seni sama bahasa asing), kalo mereka bisa bener-bener beda (misal aku pelajaran Matematika, temen yang lain Bahasa Latin). Sering kelas dibagi jadi 2 grup pula.. dan jadwal beda pula antara minggu genap sama minggu ganjil.
  36. It's okay if teachers teach wearing T-Shirt or sweater. Hahaha gahol juga . . beberapa guru pernah ngajar di kelas pake T-Shirt atau sweater.. Sering guru-guru pada duduk di meja pula waktu ngajar wkwkwkwk
  37. Not a lot of fireworks in new year's eve. Kita mah apa-apa pake kembang api.. Pensi, ulangtaun, taun baru, dll.. Di sini, kembang api dipake cuma buat ulangtaun Perancis tanggal 14 Juli.. Aneh rasanya, pas malem taun baru nggak ada suara jeder-jeder..
  38. No uniforms for school.
  39. You can smoke in front of the school even if there is a teacher. Wkwkwkwk kalo di Indonesia, paling ujung-ujung nya (lagi-lagi) ke kantor BK atau kantor kepsek :p
  40. Don't like spicy foods. Kalo di meja makan orang Indonesia selalu ada sambel, di Perancis selalu ada roti :)
  41. There is no AC or fan in the school or house, but heater. Yups! Pemanas ruangan ada dimana-mana!
  42. No school in saturday, and usually school finished after 3 pm. Selesai jam 3 sore rasanya kayak hadiah gitu.. Habis biasanya selesai jam 4 atau jam 5 sore..
  43. You can call someone older than you are just using their name. Nggak pernah denger anak sini manggil tante nya pake panggilan "tante" gitu.. Pasti namanya doang. Malah, aku punya temen yang ibunya nikah lagi sama orang lain (sejak dia  umur 8 taun), tapi dia manggil ayah tiri nya pake namanya doang..
  44. No students who bring laptop to school. Mengingat tentang Padmanaba, at least ada 50 biji laptop dalam sehari yang ngider di sekolah. Buat proposal lah, buat ngerjain laporan lah, buat ngegame lah :p
  45. There is no "Bimbel" here. Nggak ada anak yang les pelajaran gitu di sini.. Well, mungkin ada, tapi nggak lebih dari 2% dari jumlah seluruh siswa deh kayaknya..
Itu dia beberapa perbedaan yang aku rasain selama aku tinggal di sini.. I can't say which one I prefer, karna masing-masing punya keasikannya sendiri-sendiri :D